Kamis, 24 Juni 2010

NALURI PADA MIMPI

hari ini ketika cuaca tak mendukung, hembusan angin menerpa kulitku.
anehnya aku tetap berdiri disebelah semak semak yang berdampingan langsung dengan lapangan sekolah dasar...
tak ada yang ku perbuat, suasana begitu sepi tak ada yang berjualan atau bahkan sekedar lewat. kerikil tajam dibawah kakiku seperti memaksa masuk ke dalam kulit telapak kakiku,

rasanya panas dan perih luar biasa.. ku tundukan kepala mencoba menatap kakiku, tak kusangka aku tidak memakai alas kaki, aku terkesiap melihat pakaianku, kulitku dan jari-jari kakiku...
aku sedang berpijak pada kerikil yang kini telah basah dengan darah yang mengucur dari telapakku.
pakaianku kumuh dan tak karuan, kulitku pucat dan mengkerut, aku ingin menemukan cermin untuk berkaca,..
hujan mulai turun dan terbentuklah kubangan di lahan sebelah kakiku berpijak.. ku tatap wajahku melalui kubangan, kupikir hal itu takkan berhasil karena kubangan pasti tidak akan jernih, tapi dugaanku salah, kubangan itu jernih dengan pancaran cahaya yang entah darimana datangnya membuatku mudah berkaca. wajahku sendu seperti orang yang menangis semalaman, ada luka di bagian pipiku, aku seperti menatap makhluk lain yang kuyakini bukan diriku,
kemudian ada setitik air yang mengaburkan bayangan di kubangan itu..

aku mendongak, kupikir hujan, ternyata hujan seakan tidak dapat menyentuh kubangan itu, yang kudapati adalah sesosok laki-laki berbaju putih bersih yang bersinar, jadi inilah sinar yang memantul pada air dikubangan, hujan tidak bisa menembus cahaya yang dihasilkannya..
kukerjapkan mataku berkali kali, sungguh hal yang tidak mungkin, aku tau ini pasti hanya mimpi..
lalu dari mana tetes air itu??
aku menemukan jwabannya air mata lelaki itu, kucoba menatap wajahnya dan orang itu adalah DIA

.....
aku terbangun napasku terburu, keringat mengucur dari kening dan pelipisku, ini masih tengah malam, kunyalakan lampu dan menatap wajah di cermin, tak ada yang berubah, ini masih aku yang seperti biasanya, baguslah itu hanya mimpi... tapi mimpi itu sangat aneh, aku seperti manusia bodoh yang menangis dan menyadari bahwa akulah yang membuat diriku menjadi seperti ini, lalu mengapa DIA menangis?? atau kubangan itu adalah air matanya..?

naluriku mengatakan kesedihan yang menimpaku selama ini akhirnya dibangunkan pula oleh DIRINYA melalui peringatan bahwa DIA takkan pernah kembali...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar