Senin, 20 Desember 2010
KEPADA BUMERANG TERKASIH (surat 1)
aku sungguh tak tahu akan menulis apa.. aku bahkan ragu kau percaya apa yang kutulis karena bahkan diriku tak dapat mempercayainya..
ini bulan ke tujuh, dimana aku bungkam, kau bungkam dan dunia berceloteh..
ini bulan ke tujuh, dimana kau berhenti mendongeng dan aku berhenti mendengar dan dunia memohon untuk memulai cerita baru.
ini bulan ke tujuh dimana tak ada lagi dering telephone tak ada lagi gemerincing tawa.
ini bulan ke tujuh .. dan aku tetap sendiri..
taukah disini aku sungguh baik baik saja.. jangan khawatirkan aku,kasih..
bagaimana denganmu? kau baik baik saja? apa yang kau santap di pagi hari? apa kisah yang kau dapat di hari yang cerah ini? hai ?? jawab aku..
(hening) tak ada jawaban
aku hanya berceloteh sendiri..
menanyakan kepada kaca bening di hadapanku tapi yang kulihat hanya perubahan air mukaku..
adakah kau pernah berfikir bahwa apa yang berkaitan denganmu adalah bumerang bagiku.. tawaku juga tangisku
rinduku juga pedihku
kasihku, apa kabar hari ini? aku rindu
Rabu, 29 September 2010
MELODI
sepuluh jari lincah
menekan tut piano lembut
melahirkan warna melodi
senada debar jantungku
setara kerjap mataku
takjub menggiring pandangku
seakan hati tak henti berdendang
menyanyikan lagu cinta
diiringi music pujangga terkasih
LEBUR
terpantul dimataku
kata-kata yang terurai
menghempasku ke lautan mawar
pikirannya menghapus peluh
tawanya menggusur penat
terkapar aku
terbuai aku
leburlah diriku
dipelukan hati seorang brilian
IBUKU
aku di pelukan
hangat tak pernah hilang
aromanya bertahta
setiap lekuk sama dengannya
desir darah sama dengan detak jantungnya
ia tetap menggenggam erat diriku dalam
lengan penuh sarat
selalu indah bersama dirinya
yang siap siaga menghaturkan
damai tiada ujung
wanita itu
ibuku tercinta
MENANTI
gelisah menanti di taman
penuh bunga kenanga
kursi tua yang tak luput zaman
merintih pilu memangku beban
ia masih belum datang
melodi janji indah menggema telinga
munafik dapat mengarti dirinya
aku terus menanti
sampai umur terlahap maut
TIPU
mendengar pepatah
ada hati melonjak
tersaruk merambah ke sumber
sumbang menutup telinga
tak ada lagi pepatah
tangan kecil membelai dahi
menoreh jarum mengukir dalam
darah segar mengucur
bau amis menggoyah pertahanan
matilah satu orang
aku berikutnya
DUNIAKU
berlayar di gurun pasir
menanjak di tengah laut
menggapai meteor di kutub utara
mengembara di langit ke tiga
aku pilih diam di dalam gua
menikmati angin yang berhembus seiring
nada ombak yang menghujam karang
temukan melodi nyanyian burung
kerikil gua membawa nikmat
mulut ternganga menadah tetes air gua
aroma asin menyengat membakar hidung
aku terus hidup disini dalam gua gelap
mandambakan cahaya setiap malam
tanpa hasrat ingin tengok dunia
JALAN
suplir hitam melengkung ketika muda..
menjulur panjang kala umur menanjak..
gelisah terinjak, tak mudah dilihat,
hanya aku merasa pedih suplir..
masih mudah meraba hati suplir,
tak peka terhadap hati batin..
serbuk ilalang menari menapak udara..
diputar angin tak kuasa..
hanya harap tak tentu,
bawa ilalang ke tirai hidup…
semua berjalan tanpa tuntutan.
semoga hati tak ada jenuh..