nafas berhembus
kenangan terbingkai
masa depan terpampang
hidup masih panjang. jangan menangis
Rabu, 30 Juni 2010
Sabtu, 26 Juni 2010
KURUNGAN PELUH
gejolak itu penuh
terisi khayalku
membawa penuh dakwa
mengiris tawa
ambisi ini kosong
oleh bintik ego
dibawa sukar
menindik akar
serasa mati rasa
mengamuk sedesa
fakta harus utuh
tapi aku
dikurung peluh
terisi khayalku
membawa penuh dakwa
mengiris tawa
ambisi ini kosong
oleh bintik ego
dibawa sukar
menindik akar
serasa mati rasa
mengamuk sedesa
fakta harus utuh
tapi aku
dikurung peluh
LENSAKU
penghabisan waktu
digerogoti sang penantang
memamerkan keharmonisan
tak urung hati
menatap lesu
kesinisan lain menguatkan
berkutat memutar otak
buat agar kujatuh
tak ada daya tersungkur malu
apa mata bisa ditipu
penilai itu ada dua
hati penuh jernih
dan lensa tak kabur pandang
aku tak tertarik akan pameran
lensaku tak sepadan untuk pameran
pameran untuk penjatuhan insan lain
(prosa lirik ini dibuat kala kusedang berdiri menatap 'titik bertahan', bahasanya lebih lugas, karena ada kesan komplain)
digerogoti sang penantang
memamerkan keharmonisan
tak urung hati
menatap lesu
kesinisan lain menguatkan
berkutat memutar otak
buat agar kujatuh
tak ada daya tersungkur malu
apa mata bisa ditipu
penilai itu ada dua
hati penuh jernih
dan lensa tak kabur pandang
aku tak tertarik akan pameran
lensaku tak sepadan untuk pameran
pameran untuk penjatuhan insan lain
(prosa lirik ini dibuat kala kusedang berdiri menatap 'titik bertahan', bahasanya lebih lugas, karena ada kesan komplain)
REDUP
tempias mentari
mengilau air jernih
memantul berkas
mengunggah bayang
mataku terpejam
pindah haluan
mengernyit silau
tersipu lirih
bulan hilang
malam buta
hadir jerit jangkrik
bawaku ringkuk penuh takut
ada yang lebih gelap
tak mampu kubaca diri
redup redup !
kini ia redup
dilahap ego mengamuk
membawa sungkan
membuat hilang !
redup!
mengilau air jernih
memantul berkas
mengunggah bayang
mataku terpejam
pindah haluan
mengernyit silau
tersipu lirih
bulan hilang
malam buta
hadir jerit jangkrik
bawaku ringkuk penuh takut
ada yang lebih gelap
tak mampu kubaca diri
redup redup !
kini ia redup
dilahap ego mengamuk
membawa sungkan
membuat hilang !
redup!
Jumat, 25 Juni 2010
SHYMPHONY DIRI
suara hati menderu
ke segala penjuru
meneriaki namanya
memohon kehadirannya
nada di pikirku
menjerit memilu
memutar kenangan
berlutut kan kedatangan
shymphony?
sekumpulan instrument
menghadirkan alunan
penuh dengan sautan
inilah shymphony diri
yang meluncur dari hati
dari pikirku
saling saut
memohon keberadaannya
ke segala penjuru
meneriaki namanya
memohon kehadirannya
nada di pikirku
menjerit memilu
memutar kenangan
berlutut kan kedatangan
shymphony?
sekumpulan instrument
menghadirkan alunan
penuh dengan sautan
inilah shymphony diri
yang meluncur dari hati
dari pikirku
saling saut
memohon keberadaannya
Kamis, 24 Juni 2010
KLASIK
alunan klasik
pengiring tidurku
penyedia mimpiku
untaian pertanyaan
mengambang di akal
melayang di pikirku
kadang kutermenung
sedih tak kunjung reda
mendengar rintihannya
kadang kutersenyum
bahagia tak tertanding
mendengar dentingannya
betapa tidak
alunan klasik ini
membawaku dalam
menyelam tak tertahan
pada rasa
rasa yang kuyakini keberadaannya
pengiring tidurku
penyedia mimpiku
untaian pertanyaan
mengambang di akal
melayang di pikirku
kadang kutermenung
sedih tak kunjung reda
mendengar rintihannya
kadang kutersenyum
bahagia tak tertanding
mendengar dentingannya
betapa tidak
alunan klasik ini
membawaku dalam
menyelam tak tertahan
pada rasa
rasa yang kuyakini keberadaannya
TANGIS UNTUK DUKA
punuk penuh peluh
mengais serpih kedamaian
mengintip harap kebahagiaan
menyentuh kalbu diambang tawa
raut penuh isak
mengaduh lirih
habis sudah kata
hanya tangan yang menengadah
satu dua umpan di makan lahap
menjejali dinding perut yang keriput
aku menangis untuk duka
dimana orang tak punya nafas
mengais serpih kedamaian
mengintip harap kebahagiaan
menyentuh kalbu diambang tawa
raut penuh isak
mengaduh lirih
habis sudah kata
hanya tangan yang menengadah
satu dua umpan di makan lahap
menjejali dinding perut yang keriput
aku menangis untuk duka
dimana orang tak punya nafas
HARAP
hari ini di seberang jalan
kutatap nanar dirimu
beribu pertanyaan menyerbu
memohon kepulanganmu..
seperti halnya tongkat
menuntun kisahku
memilih mimpiku
aku singgah karena itu..
hilang, dan tak ingin datang
membutakanku dari mimpi
kuberi jalanmu
rumahmu direlung hatiku..
harap, hanya bisa berharap....
kutatap nanar dirimu
beribu pertanyaan menyerbu
memohon kepulanganmu..
seperti halnya tongkat
menuntun kisahku
memilih mimpiku
aku singgah karena itu..
hilang, dan tak ingin datang
membutakanku dari mimpi
kuberi jalanmu
rumahmu direlung hatiku..
harap, hanya bisa berharap....
LILIN
Aku pilu
menatap lilin yang mulai redup
cahayanya temaram
tertiup angin lembut
laksana gadis semampai
menari diatas podium
biar, biar angin yang kuasa
kuasa meredupkan api
agar aku tetap hidup
dalam sepi gelap
menatap lilin yang mulai redup
cahayanya temaram
tertiup angin lembut
laksana gadis semampai
menari diatas podium
biar, biar angin yang kuasa
kuasa meredupkan api
agar aku tetap hidup
dalam sepi gelap
KETIKA HARAPAN KOSONG
Indah kudengar bisikannya
Mengiringiku ke lubang harapan
Membuatku hilang akal
aku malu...
ku coba hapus bayangmu
berharap kau sisakan seukir kenangan
membuatku menanti
aku termenung...
kurogoh relung hatiku
tak kutemukan sebentuk apapun
hanya kehampaan
aku kecewa...
panah tajam menggores hatiku
menorehkan sebersit luka
perihnya meradang jiwa
aku meringis...
kau pergi..
bertolak dariku..
aku tersadar
rayuan hanya serpihan harapan kosong
senantiasa menghantui langkahku..
Mengiringiku ke lubang harapan
Membuatku hilang akal
aku malu...
ku coba hapus bayangmu
berharap kau sisakan seukir kenangan
membuatku menanti
aku termenung...
kurogoh relung hatiku
tak kutemukan sebentuk apapun
hanya kehampaan
aku kecewa...
panah tajam menggores hatiku
menorehkan sebersit luka
perihnya meradang jiwa
aku meringis...
kau pergi..
bertolak dariku..
aku tersadar
rayuan hanya serpihan harapan kosong
senantiasa menghantui langkahku..
TANYA ?
kutelusuri trotoar, mengacuhkan bisingnya kendaraan yang melaju kencang di sebelahku, matahari siang ini terlampau terik, membuat peluh keringat mengucur keras dari tubuhku, mataku menyipit setiap wajahku menatap langit..
teringat kembali tentang hari ini, hari yang memaksaku barpikir keras tentang pertanyaan yang menghujam phikiranku..
apakah aku sudah melupakannya? benarkah sudah ada penggantinya?, atau aku hanya mencoba membuka lembar baru?..
pertanyaan itu sangat menyesatkan phikiranku hingga sulit berkonsentrasi, semuanya percuma saja, tak ada satupun pertanyaan yang mampu kujawab, justru diriku sendirilah yang takut menerima jawaban dari pertanyaan itu.
sesungguhnya percuma aku menentukan siapa yang kini singgah di beranda hati ini, tak akan ada yang berubah bila perasaanku berubah yang ada hanya bagaimana aku menanggapi diriku sendiri...
kini kubiarkan diriku sendiri tanpa perlu meratap memikirkan siapa yang ada disini ........
teringat kembali tentang hari ini, hari yang memaksaku barpikir keras tentang pertanyaan yang menghujam phikiranku..
apakah aku sudah melupakannya? benarkah sudah ada penggantinya?, atau aku hanya mencoba membuka lembar baru?..
pertanyaan itu sangat menyesatkan phikiranku hingga sulit berkonsentrasi, semuanya percuma saja, tak ada satupun pertanyaan yang mampu kujawab, justru diriku sendirilah yang takut menerima jawaban dari pertanyaan itu.
sesungguhnya percuma aku menentukan siapa yang kini singgah di beranda hati ini, tak akan ada yang berubah bila perasaanku berubah yang ada hanya bagaimana aku menanggapi diriku sendiri...
kini kubiarkan diriku sendiri tanpa perlu meratap memikirkan siapa yang ada disini ........
BUTUH WAKTU
perisai mungkin hanya sebuah benda, yang terangkai oleh besi baja murni...
dipakai oleh seorang pendekar gagah berani...
untaian kata manis, membuaiku...
meluncur dari bibir seorang pujangga...
segelas es capuchino melegakan dahagaku..
dibuat oleh seorang koki handal...
sesungguhnya segalanya sudah dipenuhi oleh berbagai insan di bumi, tapi aku masih tetap mencari... siapa?
ku tak tau, bayangan masa lalu sudah semakin memudar setiap langkah seperti bayangan yang hilang ketika cahaya padam... lalu apa yang kucari...
aku seakan melihat sesuatu di ujung mata tapi tak bisa kugapai, melihat sesuatu diujung jalan tapi tak mampu aku berlari, seperti melihat sesuatu diatas pohon yang tidak begitu tinggi tapi bahkan tak dapat ku panjat...
sudahlah mungkin hanya ilusi dari bentuk sepi yang kurasa..
sesungguhnya aku hanya butuh WAKTU untuk benar-benar menerima ia telah tiada...
dipakai oleh seorang pendekar gagah berani...
untaian kata manis, membuaiku...
meluncur dari bibir seorang pujangga...
segelas es capuchino melegakan dahagaku..
dibuat oleh seorang koki handal...
sesungguhnya segalanya sudah dipenuhi oleh berbagai insan di bumi, tapi aku masih tetap mencari... siapa?
ku tak tau, bayangan masa lalu sudah semakin memudar setiap langkah seperti bayangan yang hilang ketika cahaya padam... lalu apa yang kucari...
aku seakan melihat sesuatu di ujung mata tapi tak bisa kugapai, melihat sesuatu diujung jalan tapi tak mampu aku berlari, seperti melihat sesuatu diatas pohon yang tidak begitu tinggi tapi bahkan tak dapat ku panjat...
sudahlah mungkin hanya ilusi dari bentuk sepi yang kurasa..
sesungguhnya aku hanya butuh WAKTU untuk benar-benar menerima ia telah tiada...
NALURI PADA MIMPI
hari ini ketika cuaca tak mendukung, hembusan angin menerpa kulitku.
anehnya aku tetap berdiri disebelah semak semak yang berdampingan langsung dengan lapangan sekolah dasar...
tak ada yang ku perbuat, suasana begitu sepi tak ada yang berjualan atau bahkan sekedar lewat. kerikil tajam dibawah kakiku seperti memaksa masuk ke dalam kulit telapak kakiku,
rasanya panas dan perih luar biasa.. ku tundukan kepala mencoba menatap kakiku, tak kusangka aku tidak memakai alas kaki, aku terkesiap melihat pakaianku, kulitku dan jari-jari kakiku...
aku sedang berpijak pada kerikil yang kini telah basah dengan darah yang mengucur dari telapakku.
pakaianku kumuh dan tak karuan, kulitku pucat dan mengkerut, aku ingin menemukan cermin untuk berkaca,..
hujan mulai turun dan terbentuklah kubangan di lahan sebelah kakiku berpijak.. ku tatap wajahku melalui kubangan, kupikir hal itu takkan berhasil karena kubangan pasti tidak akan jernih, tapi dugaanku salah, kubangan itu jernih dengan pancaran cahaya yang entah darimana datangnya membuatku mudah berkaca. wajahku sendu seperti orang yang menangis semalaman, ada luka di bagian pipiku, aku seperti menatap makhluk lain yang kuyakini bukan diriku,
kemudian ada setitik air yang mengaburkan bayangan di kubangan itu..
aku mendongak, kupikir hujan, ternyata hujan seakan tidak dapat menyentuh kubangan itu, yang kudapati adalah sesosok laki-laki berbaju putih bersih yang bersinar, jadi inilah sinar yang memantul pada air dikubangan, hujan tidak bisa menembus cahaya yang dihasilkannya..
kukerjapkan mataku berkali kali, sungguh hal yang tidak mungkin, aku tau ini pasti hanya mimpi..
lalu dari mana tetes air itu??
aku menemukan jwabannya air mata lelaki itu, kucoba menatap wajahnya dan orang itu adalah DIA
.....
aku terbangun napasku terburu, keringat mengucur dari kening dan pelipisku, ini masih tengah malam, kunyalakan lampu dan menatap wajah di cermin, tak ada yang berubah, ini masih aku yang seperti biasanya, baguslah itu hanya mimpi... tapi mimpi itu sangat aneh, aku seperti manusia bodoh yang menangis dan menyadari bahwa akulah yang membuat diriku menjadi seperti ini, lalu mengapa DIA menangis?? atau kubangan itu adalah air matanya..?
naluriku mengatakan kesedihan yang menimpaku selama ini akhirnya dibangunkan pula oleh DIRINYA melalui peringatan bahwa DIA takkan pernah kembali...
anehnya aku tetap berdiri disebelah semak semak yang berdampingan langsung dengan lapangan sekolah dasar...
tak ada yang ku perbuat, suasana begitu sepi tak ada yang berjualan atau bahkan sekedar lewat. kerikil tajam dibawah kakiku seperti memaksa masuk ke dalam kulit telapak kakiku,
rasanya panas dan perih luar biasa.. ku tundukan kepala mencoba menatap kakiku, tak kusangka aku tidak memakai alas kaki, aku terkesiap melihat pakaianku, kulitku dan jari-jari kakiku...
aku sedang berpijak pada kerikil yang kini telah basah dengan darah yang mengucur dari telapakku.
pakaianku kumuh dan tak karuan, kulitku pucat dan mengkerut, aku ingin menemukan cermin untuk berkaca,..
hujan mulai turun dan terbentuklah kubangan di lahan sebelah kakiku berpijak.. ku tatap wajahku melalui kubangan, kupikir hal itu takkan berhasil karena kubangan pasti tidak akan jernih, tapi dugaanku salah, kubangan itu jernih dengan pancaran cahaya yang entah darimana datangnya membuatku mudah berkaca. wajahku sendu seperti orang yang menangis semalaman, ada luka di bagian pipiku, aku seperti menatap makhluk lain yang kuyakini bukan diriku,
kemudian ada setitik air yang mengaburkan bayangan di kubangan itu..
aku mendongak, kupikir hujan, ternyata hujan seakan tidak dapat menyentuh kubangan itu, yang kudapati adalah sesosok laki-laki berbaju putih bersih yang bersinar, jadi inilah sinar yang memantul pada air dikubangan, hujan tidak bisa menembus cahaya yang dihasilkannya..
kukerjapkan mataku berkali kali, sungguh hal yang tidak mungkin, aku tau ini pasti hanya mimpi..
lalu dari mana tetes air itu??
aku menemukan jwabannya air mata lelaki itu, kucoba menatap wajahnya dan orang itu adalah DIA
.....
aku terbangun napasku terburu, keringat mengucur dari kening dan pelipisku, ini masih tengah malam, kunyalakan lampu dan menatap wajah di cermin, tak ada yang berubah, ini masih aku yang seperti biasanya, baguslah itu hanya mimpi... tapi mimpi itu sangat aneh, aku seperti manusia bodoh yang menangis dan menyadari bahwa akulah yang membuat diriku menjadi seperti ini, lalu mengapa DIA menangis?? atau kubangan itu adalah air matanya..?
naluriku mengatakan kesedihan yang menimpaku selama ini akhirnya dibangunkan pula oleh DIRINYA melalui peringatan bahwa DIA takkan pernah kembali...
MARAH
meski jutaan batu terhempas dari bongkah gunung yang lapuk, takkan mengalahkan kejam hembus kata yang terkoar dari mulutmu....
marah, baru kali ini aku begitu marah,!
selama tanah merah tetap basah, selama itu pula takkan ada yang melihat kebenaran,
kepercayaan terus goyah, tapi penghianat hati terus berkata dusta,
dilema tak tanggung mengajakku berperang!!!!!
ketika kucoba bungkam, mataku tak henti membaca setiap tulisan bernada kasar darimu!
ketika ku kobarkan amarahku tepat dihadapan wajahmu hanya untaian makian kudengar...
pelupuk mata keriput oleh basahnya air mata...
bodoh!!!!! kenapa aku menangis???!!!! untuk dia ,
tapi lagi lagi kucoba tuk bungkam toh sebentar lagi perpisahan akan membawa damai, karena tidak bertemu pecundang itu lagi...
emosiku berlebih, bahasaku tak teratur, lukisan kata indah menjadi pola yang terlalu melankolis, hari ini ku hanya ingin MARAH!!!!!!!!!!!!!!!
marah, baru kali ini aku begitu marah,!
selama tanah merah tetap basah, selama itu pula takkan ada yang melihat kebenaran,
kepercayaan terus goyah, tapi penghianat hati terus berkata dusta,
dilema tak tanggung mengajakku berperang!!!!!
ketika kucoba bungkam, mataku tak henti membaca setiap tulisan bernada kasar darimu!
ketika ku kobarkan amarahku tepat dihadapan wajahmu hanya untaian makian kudengar...
pelupuk mata keriput oleh basahnya air mata...
bodoh!!!!! kenapa aku menangis???!!!! untuk dia ,
tapi lagi lagi kucoba tuk bungkam toh sebentar lagi perpisahan akan membawa damai, karena tidak bertemu pecundang itu lagi...
emosiku berlebih, bahasaku tak teratur, lukisan kata indah menjadi pola yang terlalu melankolis, hari ini ku hanya ingin MARAH!!!!!!!!!!!!!!!
PERBUATAN
well, mari kita mulai
"sunyi itu taakan pernah musnah kawan, dia tetap ada. dimana?. di dalam sini((gadis itu menunjuk letak hatinya)," aku terperangah."lalu kau pikir apa itu sunyi !!!"nada amarahku mulai melonjak ,
dia menjawab dengan sangat lembut "sunyi itu sesuatu yang kau tanam, sesuatu yang kau mulai, sesuatu yang kau yakini adanya"
"apa yang kau maksud?" amarahku mulai meredam, namun isak tangis masih mengelabuhi akal.
"kau bilang kau sunyi, kau bilang kau sepi, kau bilang kau cangkir kosong, kau bilang kau hampa, apa kau masih tidak mengerti?, kau memahami sepimu dengan seluruh akal dan hatimu, itulah mengapa kau selalu buta dengan perasaan yang lain, kita boleh memilih kawan, mana yang benar2 ingin kita rasakan dan mana yang ingin kita hilangkan, tapi kau mengambil jalan yang salah, ketika datang titik bahagiamu, kau lupakan itu dan memilih memikirkan sunyimu, itu terlalu bodoh, kembalilah sebelum kau menyesal"
gadis cantik itu menghilang dan aku terdiam
apa yang terjadi barusan
ada benarnya bahwa sepi atau sunyi yang kita alami selama ini adalah perbuatan kita
mari tersenyum dan pikirkan hal lain yang setidaknya membuat perasaanmu lebih baik, itu akan membuat kau lebih nyaman akan dirimu sendiri :)
"sunyi itu taakan pernah musnah kawan, dia tetap ada. dimana?. di dalam sini((gadis itu menunjuk letak hatinya)," aku terperangah."lalu kau pikir apa itu sunyi !!!"nada amarahku mulai melonjak ,
dia menjawab dengan sangat lembut "sunyi itu sesuatu yang kau tanam, sesuatu yang kau mulai, sesuatu yang kau yakini adanya"
"apa yang kau maksud?" amarahku mulai meredam, namun isak tangis masih mengelabuhi akal.
"kau bilang kau sunyi, kau bilang kau sepi, kau bilang kau cangkir kosong, kau bilang kau hampa, apa kau masih tidak mengerti?, kau memahami sepimu dengan seluruh akal dan hatimu, itulah mengapa kau selalu buta dengan perasaan yang lain, kita boleh memilih kawan, mana yang benar2 ingin kita rasakan dan mana yang ingin kita hilangkan, tapi kau mengambil jalan yang salah, ketika datang titik bahagiamu, kau lupakan itu dan memilih memikirkan sunyimu, itu terlalu bodoh, kembalilah sebelum kau menyesal"
gadis cantik itu menghilang dan aku terdiam
apa yang terjadi barusan
ada benarnya bahwa sepi atau sunyi yang kita alami selama ini adalah perbuatan kita
mari tersenyum dan pikirkan hal lain yang setidaknya membuat perasaanmu lebih baik, itu akan membuat kau lebih nyaman akan dirimu sendiri :)
PERTEMANAN ABADI
tak kutemukan satu pun titik terang
berdiri menatap lampu pijar tak kan ada guna
coba berfikir bahwa waktu akan mempermudah kesesakkan dada, membuatku jadi orang tak sabar dan gelisah.
tak ada derita atau cerita menyedihkan, hanya saja kutahu akan terjadi derita dan kerinduan yang menyesatkan. ketika tawa renyah terdengar menggema, semakin kuat kesadaranku akan perpisahan yang urung tiba.
setiap hari ketika terbangun dari tidur yang lelap, selalu ada senyum yang menegaskan, hari ini aku masuk sekolah, menatap seluruh kawan.
sampai di kelas, sudah pasti ada gerombolan anak perempuan yang mengobrol, tertawa, dan saling melempar lelucon serta berbagi kisah tentang apa yang terjadi di tayangan televisi yang kita sukai.
segerombolan anak laki-laki yang super kompak tak pernah luput kulihat duduk bersila bersama, memetik gitar menyanyikan sebuah 2 buah bahkan 3 sampai 4 buah lagu yang dari hari ke hari mereka putar terus.
ketika pelajaran di mulai, lelucon tak usai juga, satu dua anak menjadi bahan lelucon bagi satu dua anak lainnya, kejadian lucu yang terjadi, dan segenap tawa yang terdengar terasa begitu hangat.
tidak hanya kebahagian, kesedihan dan permasalahan besar mengikat kita pada sebuah kebiasaan atau sebuah persahabatan.
satu... dua.......3 tahun berlalu, acara perpisahan sedang di persiapkan
kapan lagi aku datang ke sekolah, memakai putih biru kebanggaan, tertawa dan tersenyum bahagia bertemu sekawanan remaja seumuran yang penuh dengan perhatian atau lelucon jenaka..
bibirku terasa KELU tak dapat menghentikan waktu, GERAKKU terasa kaku tak bisa melawan waktu
Terima kasih teman ~
semoga pertemuan kita merupakan sebuah kenangan yang selalu teringat di masa depan dan menjadikan senyum kebanggaan bagi satu sama lain pernah saling mengenal..
berdiri menatap lampu pijar tak kan ada guna
coba berfikir bahwa waktu akan mempermudah kesesakkan dada, membuatku jadi orang tak sabar dan gelisah.
tak ada derita atau cerita menyedihkan, hanya saja kutahu akan terjadi derita dan kerinduan yang menyesatkan. ketika tawa renyah terdengar menggema, semakin kuat kesadaranku akan perpisahan yang urung tiba.
setiap hari ketika terbangun dari tidur yang lelap, selalu ada senyum yang menegaskan, hari ini aku masuk sekolah, menatap seluruh kawan.
sampai di kelas, sudah pasti ada gerombolan anak perempuan yang mengobrol, tertawa, dan saling melempar lelucon serta berbagi kisah tentang apa yang terjadi di tayangan televisi yang kita sukai.
segerombolan anak laki-laki yang super kompak tak pernah luput kulihat duduk bersila bersama, memetik gitar menyanyikan sebuah 2 buah bahkan 3 sampai 4 buah lagu yang dari hari ke hari mereka putar terus.
ketika pelajaran di mulai, lelucon tak usai juga, satu dua anak menjadi bahan lelucon bagi satu dua anak lainnya, kejadian lucu yang terjadi, dan segenap tawa yang terdengar terasa begitu hangat.
tidak hanya kebahagian, kesedihan dan permasalahan besar mengikat kita pada sebuah kebiasaan atau sebuah persahabatan.
satu... dua.......3 tahun berlalu, acara perpisahan sedang di persiapkan
kapan lagi aku datang ke sekolah, memakai putih biru kebanggaan, tertawa dan tersenyum bahagia bertemu sekawanan remaja seumuran yang penuh dengan perhatian atau lelucon jenaka..
bibirku terasa KELU tak dapat menghentikan waktu, GERAKKU terasa kaku tak bisa melawan waktu
Terima kasih teman ~
semoga pertemuan kita merupakan sebuah kenangan yang selalu teringat di masa depan dan menjadikan senyum kebanggaan bagi satu sama lain pernah saling mengenal..
Rabu, 23 Juni 2010
KEPUTUSAN
dimana kutaruh segelas air
dimana kutanam sebiji besi
dimana kutabur serumpun kata
dimana kupendam seribu jiwa
kata manis bak benalu terbit
mengobar janji
mengubur tanya
memerdekakan asa
kuberdiri dalam gelap
mengintip di tengah hampa
meraba di udara luas
berjalan menapak air
goyah, tanpa arah
tak ingin kujatuh
putusan hanya 1
tinggalah aku di jalan sepi
biar sendiri
lepas genggamanmu
agar terbang aku.....
dimana kutanam sebiji besi
dimana kutabur serumpun kata
dimana kupendam seribu jiwa
kata manis bak benalu terbit
mengobar janji
mengubur tanya
memerdekakan asa
kuberdiri dalam gelap
mengintip di tengah hampa
meraba di udara luas
berjalan menapak air
goyah, tanpa arah
tak ingin kujatuh
putusan hanya 1
tinggalah aku di jalan sepi
biar sendiri
lepas genggamanmu
agar terbang aku.....
SAMPAI WAKTU
mengaduh kesakitan
menimbulkan risau
membawa kebisingan
menepis kedamaian
berhentilah aku di jalan setapak
memalingkan wajah lirih
mengintip kembali
kenangan masih tertunduk lesu
sampai waktu tiba
langkahku masih goyah
langkahku masih berat
langkahku masih rangkak
sampai waktu tiba
mataku kan terpejam
tanganku kan terkepal
relungku kan berkabut
sampai waktu tiba
hanya cintaku yang tetap abadi...
menimbulkan risau
membawa kebisingan
menepis kedamaian
berhentilah aku di jalan setapak
memalingkan wajah lirih
mengintip kembali
kenangan masih tertunduk lesu
sampai waktu tiba
langkahku masih goyah
langkahku masih berat
langkahku masih rangkak
sampai waktu tiba
mataku kan terpejam
tanganku kan terkepal
relungku kan berkabut
sampai waktu tiba
hanya cintaku yang tetap abadi...
CEPAT ATAU LAMBAT
pagi yang berbeda membawa aroma yang berbeda .
pagi pertama dimana semua kabar memupuk bahagia
senyumku mengukir wajah, menyapa dunia
mataku masih berkabut ketidak sadaran, hanya saja aku terbangun bahagia karena kutau ada kabar yang merantai tawa...
pagi ke 178 merajut pedih
kuterbangun mengaduh perih
menggeliat penuh tangis
jantung tergopoh menahan pilu
pagi pertama saat kutau kau telah pergi
enggan kusapa dunia
enggan kutersenyum ramah
ku hanya terpaku pada suatu rasa yang orang sebut penyesalan, yang orang sebut kehilangan
ku tak pernah peduli pada orang yang berkata 'aku kehilangan cinta' hingga menjerit penuh derai kebingungan ... aku selalu berkata 'mengapa tak kalian acuhkan rasa itu?'
ternyata aku belum mengerti
belum merasa
hanya melihat
dan menyimpulkan
dan kini aku meringkuk
menguping jeritan hati yang mengiris dada
yang memanaskan mata
jariku mengetuk ujung meja .. manghitung berapa detik kutersesat pada rasa hilang
sungguh bukan detik yang menjadi akhir.. tapi mungkin hari ini dan selamanya
itulah aku dengan rasaku
entah bagaimana ku tersadar , aku tau sedari dulu CEPAT atau LAMBAT semua akan jadi seperti ini, kehilangan kan jadi akhir kisah seorang yang merelakan...
-hanya sebuah catatan ketika ku kehilangan-
pagi pertama dimana semua kabar memupuk bahagia
senyumku mengukir wajah, menyapa dunia
mataku masih berkabut ketidak sadaran, hanya saja aku terbangun bahagia karena kutau ada kabar yang merantai tawa...
pagi ke 178 merajut pedih
kuterbangun mengaduh perih
menggeliat penuh tangis
jantung tergopoh menahan pilu
pagi pertama saat kutau kau telah pergi
enggan kusapa dunia
enggan kutersenyum ramah
ku hanya terpaku pada suatu rasa yang orang sebut penyesalan, yang orang sebut kehilangan
ku tak pernah peduli pada orang yang berkata 'aku kehilangan cinta' hingga menjerit penuh derai kebingungan ... aku selalu berkata 'mengapa tak kalian acuhkan rasa itu?'
ternyata aku belum mengerti
belum merasa
hanya melihat
dan menyimpulkan
dan kini aku meringkuk
menguping jeritan hati yang mengiris dada
yang memanaskan mata
jariku mengetuk ujung meja .. manghitung berapa detik kutersesat pada rasa hilang
sungguh bukan detik yang menjadi akhir.. tapi mungkin hari ini dan selamanya
itulah aku dengan rasaku
entah bagaimana ku tersadar , aku tau sedari dulu CEPAT atau LAMBAT semua akan jadi seperti ini, kehilangan kan jadi akhir kisah seorang yang merelakan...
-hanya sebuah catatan ketika ku kehilangan-
TITIK BERTAHAN
GOYAH MERANTAI BEBAS
SEMILIR KESALAHAN
MENUSUK KESENDIRIAN
TAK URUNG ASA PUN JATUH
LANGKAHKU MENYAPU JALAN
MENYERET WAKTU
MENGGAPAI KERAMAHAN
TAK URUNG SEMUA HILANG
ORANG KATA APA
KU ACUH BERTAHAN
SAAT KU TERTATIH
MASIH ADA TITIK BERTAHAN
SEMILIR KESALAHAN
MENUSUK KESENDIRIAN
TAK URUNG ASA PUN JATUH
LANGKAHKU MENYAPU JALAN
MENYERET WAKTU
MENGGAPAI KERAMAHAN
TAK URUNG SEMUA HILANG
ORANG KATA APA
KU ACUH BERTAHAN
SAAT KU TERTATIH
MASIH ADA TITIK BERTAHAN
BUKAN PUJANGGA
untaian kata merajut kalimat
aku bukan pujangga
hanya gadis yang mendengar desir hatinya
yang kutulis dengan apa adanya
aku bukan pujangga
hanya gadis yang mendengar desir hatinya
yang kutulis dengan apa adanya
Langganan:
Postingan (Atom)