Selasa, 30 September 2014

Segelas kopi panas

Cinta seperti segelas kopi panas 
Jika diminum tergesa gesa maka ia akan melukai lidah
Jika terlalu lama dibiarkan maka nikmatnya akan berkurang 

Cinta harus tepat waktu 

Seruput pertama begitu nikmat 
Hangatnya membasuh tenggorokkan 
Uapnya menyelimuti ujung hidung 
Meredamkan dingin 

Setengah gelas berlalu 
Kehangatan menjadi biasa
Lalu kita asik bicara 
Tentang hidup dibawah langit sore 

Lalu hidungmu mulai berair, tenggorokkanmu meminta kehangatan 
Segelas kopi hangat yang barusan diacuhkan
Seruput berikutnya tak begitu nikmat 
Hangatnya dicuri angin yang tak bosan berhembus 

Dan sampailah di titik itu ketika rasa hangat manis hanya tinggal pahit 
Dan ampas yg tersisa meninggalkan sepat di lidah




Tidak ada komentar:

Posting Komentar