air, sesuatu yang kuharapkan bisa turun disaat hati gelisah
setetes, dua tetes cukup menggambarkannya
hangat, sesuatu yang entah mengapa bisa hadir di dua saat yang berbeda
kehangatan dicintai dan kehangatan ketika emosi yang terpendam keluar mengamuk menghangatkan kulit yang dingin
dingin, seperti sepi yang tak berujung
sedih, entah dimana letaknya, mengapa dada bisa begitu sesak, nafas begitu terhambat, hati seakan layu, pikiran acuh tak acuh untuk membantu
luka, sayatan yang mengambang, tak teraba, hanya terasa, yang pilunya meragukan asa
cinta, seperti jatuhnya AIR mataku, seperti keHANGATan emosi membasuh kulit yang dingin, seperti DINGINnya kesendirian, SEDIH bagai makanan sehari hari, dengan LUKA yang tak kunjung sembuh
aku hanya bisa meraba - raba bekas jejakmu dengan penuh pertanyaan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar